Kamis, 24 November 2016

KPK Akan Periksa Dirjen Pajak


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal memeriksa Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Dirjen Pajak Kemkeu), Ken Dwijugiasteadi. Pemeriksaan terhadap Ken dilakukan penyidik KPK untuk mengusut kasus dugaan suap terkait 'pengurusan' pajak PT EK Prima Ekspor Indonesia.
Dalam kasus ini, KPK telah menangkap dan menetapkan tersangka terhadap anak buah Ken, yakni Kasubdit Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum Ditjen Pajak, Handang Soekarno serta Presdir PT EK Prima, Rajesh Rajamohanan Nair sebagai tersangka.
Wakil Ketua KPK, Laode M Syarief menyatakan, pemeriksaan terhadap Ken dilakukan jika penyidik menilai keterangannya relevan untuk mengusut kasus ini. Ken merupakan pihak yang bertanggung jawab di lingkungan Ditjen Pajak.
"Kalau relevan pasti akan kita (lakukan) pemeriksaan karena beliau kan bertanggung jawab pada Direktorat Pajak," kata Syarief di Jakarta, Kamis (22/11).
Tak hanya Ken, dalam mengusut kasus ini, Syarief menegaskan, pihaknya juga bakal memeriksa pejabat Ditjen Pajak lainnya yang terkait. Menurutnya, pemeriksaan terhadap para pejabat ini sejalan dengan upaya KPK dan Kemkeu untuk memberishkan aparat pajak yang nakal.
"Ada kepentingan lain mengapa kami periksa semuanya, karena sekaligus penindakan akan dibarengi pencegahannya dan ibu menteri (Sri Mulyani Indrawati) mau KPK benahi Dirjen Pajak," tegasnya.
Pemeriksaan ini, kata Syarief untuk mendalami pola kerja, dan bisnis proses di lingkungan Ditjen Pajak. Dengan demikian, KPK dapat memberikan rekomendasi kepada Kemkeu untuk menata perpajakan dan menutup celah korupsi.
"Kami ingin tahu pola kerjanya bagaiman, bisnis prosesnya bagaimana. Memang ini kasus kalau pintu korupsinya kita tahu maka rekomendasi tata kelolanya akan lebih baik," katanya.
Diketahui KPK menangkap Handang dan Rajesh usai bertransaksi suap pada Senin (21/11) malam. Dari tangan Handang, tim satgas KPK menyita uang sebesar USD 148.500 atau sekitar Rp 1,9 miliar. Diduga, uang tersebut merupakan pemberian pertama dari yang disepakati sebesar Rp 6 miliar. Uang suap ini diberikan kepada Handang untuk mengurus sejumlah persoalan pajak yang dihadapi PT E.K Prima Ekspor Indonesia. Salah satunya, terkait surat tagihan pajak (STP) PT E.K Prima sebesar Rp 78 miliar.
PT E.K Prima Ekspor Indonesia merupakan anak perusahaan dari Lulu Group International yang berkantor pusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Rajesh juga menjabat sebagai salah satu direksi di Lulu Group yang usahanya bergerak di bidang retail.
Setelah diperiksa secara intensif, Handang ditetapkan KPK sebagai tersangka penerima suap dan disangka melanggar Pasal 12 ‎huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sementara Rajesh ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap dan dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU nomor 31 tahun 1999 ‎sebagaimana telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
Share this article

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Berkunjung Batam • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top