Menelisik Umur Peredaran Ponsel Jaringan 2G

07.43.00


Keinginan pemerintah untuk mempercepat laju migrasi pengguna jaringan 2G ke jaringan yang lebih cepat diperkirakan masih akan berjalan panjang. Pasalnya, pelanggan operator seluler yang memakai jaringan 2G di Indonesia masih besar.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dalam diskusi media di Jakarta, Kamis (15/12), menyebut ongkos produksi sebuah jaringan 2G mahal. Ia menilai beban biaya telekomunikasi itu bisa lebih ringan jika terjadi peralihan teknologi ke 3G maupun 4G.
"Untuk mengirim data 1 MB lewat 2G itu mahal banget kalau dibandingkan dengan 3G dan 4G," sambung Rudiantara.
Gayung bersambut, harapan Rudi untuk melakukan efisiensi disanggupi oleh operator seluler Hutchison Tri yang bersedia memindahkan penggunanya di jaringan 2G.
Wakil Direktur Utama Hutchison Tri Indonesia, Dani Buldansyah sebelumnya telah menyatakan bisa mengalihkan seluruh pengguna 2G Tri pada 2018 mendatang.
"Paling konservatif sih yang kita perkirakan akan rampung tahun 2020, dengan catatan kalau migrasi dilakukan mulai akhir 2018," tutur Dani yang ditemui di tempat yang sama.
Meski demikian, Dani tak menampik target waktu yang Tri usung untuk menutup layanan 2G bisa jadi muluk-muluk bagi operator lain. Terlebih bagi operator yang punya pelanggan 2G lebih banyak dari Tri.
Vice President Technology and System Telkomsel Ivan Cahya Permana mengamini pernyataan Dani. Menurut Ivan, penutupan jaringan 2G tak bisa dipaksakan selama penggunanya masih banyak.
Dari total pelanggan Telkomsel sebanyak 157,6 juta, Ivan menyebut pengguna 2G masih lebih dari setengahnya. "Pelanggan 2G kita hari ini kira- kira masih sekitar 65 persen," ucapnya.
Berbeda dengan Telkomsel, pelanggan 2G dari Tri hanya sekitar 15-20 persen dari total 56 juta pelanggan. Perbedaan yang cukup mencolok ini menjadi alasan belum adanya kesepakatan waktu menghentikan jaringan 2G di masa mendatang.
Ivan menilai percepatan migrasi bisa dilakukan apabila pemerintah membuat sosialisasi dan edukasi ke masyarakat lebih dini. Menurutnya, percepatan tak akan terjadi jika hanya sekadar imbauan pindah ke 4G.
"Di Jakarta dulu misalnya bisa dilakukan sosialisasi karena mayoritas pelanggan sudah pakai ponsel modern, tapi kalau di Jayapura dan Pidie, pasti banyak yang masih 2G. Masyarakatnya gimana?," tuturnya.
Ivan juga bercermin dari upaya pemerintah di industri pertelevisian yang ingin memindahkan penonton televisi analog ke televisi digital. Dalam waktu lima tahun sejak pertama kali didengungkan, program pemerintah mengosongkan spektrum analog belum membuahkan hasil.
Baik Tri maupun Telkomsel sejatinya satu suara dengan Rudiantara yang berharap migrasi 2G ke jaringan 3G dan 4G bisa berjalan mulus dan cepat.
Telkomsel sendiri menilai tahun 2021 merupakan waktu yang paling masuk akal untuk mengosongkan seluruh jaringan yang masih dipakai oleh pelanggan 2G.

0 komentar