Kamis, 22 Desember 2016

Residivis Curanmor Ini Mengaku Mantan Karyawan Bank dan Atlet



Residivis pencurian kendaraan bermotor, Dicky Alamsyah (21) terpaksa dilumpuhkan personel Reskrim Polsek Selatan di kaki sebelah kanan.
Ia ditembak lantaran berupaya kabur saat hendak bertransaksi menjual sepeda motor Suzuki Satria F merah KB 5569 WN hasil curiannya, di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, Rabu (21/12/2016) sekitar pukul 02.15 WIB.
Sebelumnya, tersangka Dicky menawarkan sepeda motor hasil curiannya dengan mempostingkan penawarannya, dari akun pribadinya ke sebuah grup Facebook.
Kepada wartawan, Dicky mengaku selama ini ia memang menganggur.
Namun karena butuh uang, ia akhirnya mengambil jalan pintas mencuri sepeda motor di kawasan Universitas Tanjungpura (Untan) dan sekitar Jalan Sepakat II.
"Saya selama ini menganggur, sudah ada sepuluh TKP, eh 16 TKP. Rata-rata di Untan, saya mencuri dari bulan Oktober sampai Desember ini," ungkapnya, Kamis (22/12/2016).
Dicky juga mengaku, sepeda motor yang berhasil dicurinya bersama rekannya bernama Petrus, rata-rata berada di kawasan parkiran fakultas-fakultas di Untan.
"Parkiran Untan, biasanya kami curi saat siang, jam-jam kuliah. Saya curi dengan Petrus, dia tugasnya ngambil motor, saya nemani saja.
Nemankan saja, 16 TKP itu semuanya Petrus yang ngambil, saya nemankan saja. Ambilnya pakai kunci biasa," kilahnya.
Menurutnya, kunci-kunci sepeda motor yang digunakan untuk mencuri sepeda motor korbannya, ia peroleh dengan membeli di bengkel sepeda motor.
"Ada yang di beli, saya bilang ke bengkel minta kunci, dikasih gitu saja," ujarnya.
Sepeda motor hasil curiannya, kerap dijual di daerah Ngabang, Kabupaten Landak. Dengan harga sepeda motor tanpa kelengkapan surat-surat tersebut, ia patok mulai Rp 2,3 juta perunit.
"Kami jual di Ngabang, satu motor Rp 3 Juta. Saya bagi dua dengan Petrus, uangnya bukan untuk narkoba, tapi untuk makan."
"Selain di Ngabang, ada juga kami jual di Jungkat dan di Jalan A Yani II. Harga sepeda motor kami jual tergantung bagus atau jeleknya, paling murah kami jual Rp 2,3 juta dan paling mahal Rp 3,5 juta," paparnya.
Menurut Dicky, para pembeli sepeda motor curiannya telah mengerti dan tak bertanya lagi mengenai kelengkapan surat lagi.
"Mereka ngerti, sudah penadah. Mereka pesan, katanya kalau ada barang hubungi saja, semua ngomong seperti itu," ucap Dicky.
Dicky mengisahkan, cara Ia mencuri sepeda motor dengan memasukkan belasan kunci sepeda motor yang dimilikinya.
"Kuncinya cocok, tahu saya. Tapi ndak juga saya yang ambil, kadang-kadang kuncinya dol, kalau ndak bisa ndak jadi diambil. "
"16 sepeda motor itu kuncinya dol. Ada yang kunci stang juga, tapi bisa dibuka, saya pakai kunci itu juga, kunci biasa," jelasnya.
Ia mengaku, sebelum menjadi pencuri sepeda motor, ia bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia selama sekitar empat bulan.
"Saya belajar mencuri di sini, belajar dengan bapak. Sebelum jadiTKI saya kerja Bank BRI bagian CS, saya kerja empat bulan. Berhenti karena ada kasus bapak ngambil sepeda motor di Jalan Karet," ungkapnya.
Saat bapaknya mencuri sepeda motor itu menurutnya ia ikut terlibat, karena saat itu memang sedang jalan menggunakan sepeda motor bersama bapaknya.
Keduanya melihat ada satu sepeda motor yang terparkir dengan kunci masih menempel di kontak.
"Saya lagi jalan sama bapak, ada motor kuncinya masih melekat, jadi bapak saya ambil, jadi saya bantu bapak jadinya. Saya jugaatlet, atlet Badminton, prestasinya juara gitu saja."
"Tapi ndak sampai nasional ataupun provinsi. Saya atlet di Kota, nama saya tercatat sebagai atlet," katanya.
Share this article

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Berkunjung Batam • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top