Jumat, 16 Desember 2016

Tumpeng Berbentuk Masjid Racikan Sudarti-Nurhayati Bikin Kaget Bupati Bintan. Ini Biaya Bikinnya!



Ingatan akan tumpengyang sederhana runtuh seketika saat sepiring nasi berwarna kuning beraroma pandan mampir di lidah.
Taburan bawang goreng, urap dan potongan daging yang lembut menggoda saat disantap beriringan.
Sudarti dan Nurhayati, warga Toapaya menamai tumpeng khas racikan mereka dengan nama tumpeng bintan gemilang.
Harap maklum mengapa keduanya menamakan sajian tumpengmereka dengan itu. Pasalnya tumpeng itu disajikan dalam rangka hari ulang tahun Kecamatan Toapaya.
Bupati Bintan Apri Sujadi dan istrinya, Deby, dijadwalkan hadir. Keduanya berharap, Apri dan sang istri berkesempatan mencicipi buatan mereka.
"Ini sampai dua jam lho dibuat, bahan dan pembuatannya benar benar dipikirkan matang-matang, karena ada pak bup datang mau berkunjung,"kata Sudarti memberitahu.
Dia juga tak lupa memberitahu, biaya yang mereka habiskan untuk pembuatan tumpeng bintan gemilang itu capai Rp 800 ribu. Itu untuk dipakai membeli bumbu dan bahan agar sajiannya lebih beda.
Baik tampilan dan tekstur isi tumpeng. Namun rupanya, Apri Sujadi higga pukul 16.00 berhalangan datang. Kecewakah keduanya?
"Oh tentu tidak,"kata keduanya sambil tersenyum. "Ini kan hari ibu. Kita buat untuk ikut lomba sekaligus ultah kecamatan Toapaya "kata Sudarti.
Tumpeng nasi kuning racikan Sudarti dan Nurhayati secara sekilas tak jauh beda dengan tumpeng tumpeng lainnya. Yang membedakan adalah penyajiannya yang tidak mengikuti kaidahtumpeng secara umum.
Tumpeng disajikan menyerupai mesjid. Mesjid itu dikelilingi empat menara. Khusus menara, disusun dengan memakai nasi merah. Di puncak menara, diisi potongan tomat merah.
"Ide membuat tumpeng bentuk mesjid ini terinpirasi saat melihat gamar gambar mesjid di internet. Mesjidnya itu cantik, kita putuskan buat tumpeng model itu,"kata Sudarti.
Itulah alasan mengapa tumpeng bintan gemilang itu memakan 2 jam dibuat. Pasalnya butuh kehatian kehatian ekstra agar tumpengbenar benar mendekati model mesjid aslinya. Lantas seperti apa cita rasanya?
Tribun berkesempatan mencicipinya. Ada rasa pedas yang menyeruak dari urap, tetapi tidak terlalu menyiksa lidah. Urapnya sendiri cukup lembut berbeda dengan urap yang biasa ditawarkan di kedai kedai atau restoran.
Nasi kuningnya juga jauh lebih lembut, harum. Aroma kunyit berpadu pandan menciptakan sensasi sendiri saat disantap.
Ayam goreng yang disajikan juga lebih lembut. Pokoknya menikmai tumpeng racikan Sudarti dan Nurhayati benar memberikan pengalaman rasa baru.
Di luar mengikuti kegiatan lomba masakan, keduanya mengaku sering menerima orderan dari orang yang menyelenggarakan acara. Pembuatan tumpeng disesuaikan dengan permintaan pelanggan.
Usaha itu mampu menopang penghasilan keluarga mereka. "Kita senang kalau banyak acara. Itu berarti permintaan juga banyak,"kata dia.
Share this article

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Berkunjung Batam • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top